POLHUKAM - Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan

Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Upacara Peringatan Hari Bela Negara Tahun 2014

018274400_1418978888-negara1

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Swastyastu
Namo Buddhaya

Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Konstitusi mengamanatkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Amanat konstitusi ini tentu saja tidak lahir dalam ruang kosong, namun berakar dari sejarah perjuangan bangsa.

Republik Indonesia bisa berdiri tegak sebagai negara bangsa yang berdaulat tidak lepas dari perjuangan seluruh kekuatan rakyat, mulai dari petani, pedagang kecil, nelayan, dan elemen rakyat lainnya untuk membela tanah air.

Tapak perjuangan rakyat untuk membela Tanah Air tercatat dalam lembaran sejarah ketika 66 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 19 Desember 1948, atas prakarsa Mr. Sjarifoeddin Prawiranegara, dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan kelangsungan hidup negara sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Negara Republik Indonesia masih eksis. Peristiwa tersebut menunjukkan kepada kita semua bahwa membela negara tidak hanya dilakukan oleh militer dengan kekuatan senjata, tetapi juga dilakukan oleh setiap warga negara dengan kesadarannya melalui upaya-upaya non-militer seperti politik maupun diplomasi.

Saudara sebangsa dan setanah air,
Pada momentum peringatan Hari Bela Negara hari ini, saya ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia belajar dari sejarah perjuangan bangsa untuk menatap masa depan. Saat ini, tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, sifatnya sudah multidimensi. Itu artinya, ancaman tidak lagi bersifat konvensional atau fisik semata akan tetapi sudah berkembang baik fisik maupun non fisik. Ancaman berkembang menjadi bersifat multidimensi karena karakter ancaman dapat bersumber dari ideologi, politik, ekonomi sosial budaya. Sehingga hal ini mengharuskan kita untuk mendefinsikan ulang apa yang kita maksud dengan Bela Negara.

Bagi saya, upaya untuk melawan aksi pencurian ikan di perairan kita adalah tindakan bela negara. Setiap tahun ratusan juta ton ikan kita dicuri. Bagi saya upaya mewujudkan kedaulatan pangan adalah bela negara. Upaya untuk bisa tegak berdiri di kaki sendiri secara ekonomi juga adalah upaya bela negara. Para guru, bidan dan tenaga kesehatan yang tengah berjuang melakukan tugasnya di pelosok Tanah Air, di kawasan perbatasan, di pulau-pulau terluar sesungguhnya sedang melakukan bela negara. Merekalah yang telah membuat Republik ini bisa tetap eksis untuk hadir melayani rakyatnya.
Upaya kita melawan ancaman kemiskinan, keter-belakangan dan ketertinggalan adalah upaya bela negara. Negara ini akan menjadi kokoh dan besar ketika bisa memberikan kemakmuran dan kese-jahteraan bersama.

Selain itu, ancaman atas kedaulatan kita muncul dari tindak pidana kejahatan Iuar biasa, yakni korupsi, yang telah nyata-nyata merusak fondasi kekuatan kita sebagai bangsa dan menjauhkan rakyat dari kesejahteraan. Upaya untuk melawan korupsi di semua tingkatan merupakan wujud pembelaan kita pada negara.

Saat ini, kita juga sedang menghadapi ancaman keamanan yang terkait dengan kejahatan inter-nasional yang dilakukan oleh aktor non-negara yang memiliki kemampuan teknologi serta dukungan finansial yang kuat, dengan jaringan yang rapi dan tersebar di sejumlah negara. Banyak anak-anak kita yang terjebak dalam ketergantungan pada narkotika. Banyak warga negara kita yang juga masuk dalam jaringan perdagangan manusia. Kita harus melawan ke-jahatan kemanusiaan ini sebagai bagian dari kecintaan kita pada Tanah Air.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Saya ingin menegaskan tantangan besar dalam sejarah adalah bagaimana mempertahankan ke-langsungan hidup kita sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi sefta berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Oleh karena itu, Bela Negara memiliki spektrum yang sangat luas di bebagai bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial dan budaya. Bela negara bisa dilakukan oleh setiap warga negara dari berbagai latar belakang profesi: mulai dari petani, buruh, profesional sampai dengan pedagang. Bela negara bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai peran dan profesi warga negara.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak seluruh warga negara untuk mem-bangun keinsyafan bersama bahwa kelangsungan hidup kita sebagai bangsa bukan tergantung pada kekuatan minter semata. Kelangsungan hidup kita sebagai bangsa adalah penjumlahan dari seluruh kekuatan rakyat. Dengan kekuatan rakyat se-mesta maka bangsa ini akan mampu menghadapi segala jenis ancaman dan tantangan. Itulah esensi dari sistem pertahanan rakyat semesta yang terbukti dalam sejarah bisa membuat Republik ini berdiri tegak.

Akhirnya, saya juga mengingatkan kita semua bahwa tugas sejarah kita adalah membela negara ini dari kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan ketergantungan. Tugas beta negara ini adalah tugas yang maha berat yang ada di depan mata kita saat ini. Tapi dengan semangat per-satuan, kerja keras dan perjuangan kita bersama, tugas sejarah itu bisa kita pikul bersama.

Terima Kasih.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 19 Desember 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
JOKO WIDODO

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Upacara Peringatan Hari Bela Negara Tahun 2014