POLHUKAM - Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan

Restorasi Pancasila untuk Membangun Masyarakat Gotong Royong Modern dan Pejuang

DSC_8956

Oleh
Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhannas RI)
Jakarta, 1 Juni 2015

Dalam rangka mendukung Gerakan “Pancasila Adalah Kita” telah diberikan sebuah artikel tulisan Mantan Gubernur Lemhannas yang perlu dipahami dan dimengerti oleh para pemangku kepentingan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila.

MENGAPA PERLU RESTORASI PANCASILA
Sudah menjadi pengetahuan kita dan oleh Presiden Sukarno (Bung Karno) ditegaskan bahwa Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 harus mempunyai dasar (Weltanschauung) untuk berdiri sampai ke akhir zaman. Kemudian Bung Karno mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara, yaitu nilai-nilai yang beliau gali dari akar kehidupan bangsa. Usul Bung Karno itu kemudian diterima dan sejak 18 Agustus 1945 dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

Maka satu tujuan penting dalam kita bernegara Republik Indonesia adalah menjadikan Dasar Negara Pancasila kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Seperti dikatakan Bung Karno, Pancasila kalau diperes adalah gotong royong. Dan memang kehidupan asli bangsa Indonesia bersifat gotong royong, atau bangsa Indonesia hidup dalam masyarakat gotong royong. Maka itu berarti bahwa untuk menjamin kelestarian Republik Indonesia sampai ke akhir zaman bangsa Indonesia harus membangun masyarakat gotong royong.

Namun, pada waktu ini dapat dikatakan bahwa sifat gotong royong dalam masyarakat Indonesia sudah tidak ada, lenyap karena pembenturan dengan bangsa-bangsa lain dan khususnya karena penjejahan begitu lama oleh bangsa Barat. Maka bangsa Indonesia yang sudah merdeka secara politik sejak 17 Agustus 1945 dan ingin mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan sejati perlu membangun kembali sifat gotong royong dalam kehidupannya. Harus dibangun kembali masyarakat Indonesia dengan gotong-royong.

Dipihak lain, bangsa Indonesia harus selalu menyesuaikan kehidupannya dengan segala perkembangan umat manusia agar mempunyai ketahanan memadai dalam dinamika pergaulan internasional. Sebab itu yang harus dibangun adalah masyarakat yang bersifat gotong royong dan sesuai dengan perkembangan umat manusia, yaitu masyarakat gotong royong modern. Karena dalam perkembangan umat manusia yang sangat besar pengaruhnya adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengertian modern mengindikasikan masyarakat gotong royong mempunyai kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Kondisi alam tanah air Indonesia yang dikaruniai Sumber Daya Alam (SDA) memberikan bahan penting untuk menciptakan kesejahteraan yang tinggi. Untuk itu, rakyat Indonesia harus mengembangkan kemampuan, bahkan kemahiran memanfaatkan segala kekayaan alam karunia Allah itu sehingga tidak dimanfaatkan bangsa-bangsa lain yang juga selalu ingin memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Maka manusia Indonesia dan seluruh rakyat harus selalu bersemangat dan berjiwa pejuang untuk menjadi masyarakat yang sejahtera. Sebab itu, yang harus dibangun adalah masyarakat gotong royong modern dan pejuang.

Tugas besar itu memerlukan perjuangan bangsa yang tidak kalah penting dan berat dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Sebab itu, tidak cukup dengan melakukan revitalisasi Pancasila yang sekarang masih begitu diabaikan oleh kalangan luas bangsa kita, termasuk para elit bangsa dan para pemimpinnya. Harus dilakukan Restorasi Pancasila yang menggerakkan bangsa Indonesia untuk mewujudkan tujuan luhur itu.

PEMBANGUNAN MANUSIA DAN MASYARAKAT
Pembangunan manusia Indonesia dan pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia (nation and character building) dulu selalu dikumandangkan Bung Karno sebagai Penggali Pancasila dan Presiden RI pertama, tapi sayang sekali tak pernah diimplementasikan secara serius dan intensif.

Pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia adalah inti Restorasi Pancasila. Pembangunan manusia Indonesia mengusahakan terwujudnya manusia dengan sifat-sifat serta kemampuan yang diperlukan dalam masyarakat gotong royong dan pejuang. Nilai-nilai Pancasila seperti harmoni dalam kehidupan dengan dilandasi filsafah perbedaan dalam kesatuan, kesatuan dalam perbedaan harus menjadi sikap yang dianut setiap manusia Indonesia. Sebagaimana solidaritas kelompok adalah sikap setiap manusia Jepang. Atau individualism menjadi sikap setiap manusia AS. Hal ini menjadikan manusia Indonesia individu yang unik dalam kehidupan dan selalu terdorong mengejar hal-hal terbaik (excellence) dalam hidupnya. Akan tetapi juga selalu sadar untuk hidup dalam kebersamaan dengan warga Indonesia lain untuk menjadikan masyarakat Indonesia maju dan sejahtera.

Manusia Indonesia memperoleh kebahagiaan karena ada peningkatan harga diri, kalua ia dapat membangun kehidupan yang maju dan sejahtera tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi terutama bagi bangsanya, masyarakatnya. Dorongan menghasilkan yang terbaik harus jauh dari sifat manja mental (mentally spoilt) yang cenderung menghinggapi sifat manusia Indonesia sekarang. Manja mental itu adalah akibat dari kondisi tanah air yang serba kaya di darat dan di laut yang membuat orang merasa tak perlu giat untuk hidup. Manja mental itu berdampak terlalu lekas puas, menimbulkan sifat kurang berbuat dan lemah implementasi, lebih gemar berwacana dan berteori dengan menghasilkan konsep-konsep yang menonjol tanpa merasa perlu untuk mewujudkannya. Sebaliknya dorongan menghasilkan yang terbaik membuat manusia Indonesia bersifat patriot pejuang yang selalu mengusahakan yang terbaik dalam apapun yang dikerjakan, menjunjung tinggi kehidupan bangsa dan negaranya. Sifat jujur, hemat, rajin, toleran, tepo seliro (empati), energik, hendaknya tumbuh sebagai sikap umum manusia Indonesia. Meninggalkan sikap semau gue, sikap asal jadi tanpa niat membuat terbaik, sikap malas, sikap tidak peduli aturan hukum, semua bermuara pada kehidupan bangsa yang diliputi berbagai pelanggaran dan kelemahan seperti korupsi yang merajalela, prestasi kerja rendah, dll. Juga meninggalkan sikap suka konflik dan berseteru dengan menggunakan kekerasan yang belakangan ini amat menonjol, dan mengajak untuk kembali ke sikap asli Indonesia yang mengutamakan harmoni dan kebersamaan serta mengatasi sengketa melalui musyawarah untuk mufakat.

Bersamaan dengan pembangunan manusia diadakan pembangunan masyarakat yang sesuai Pancasila. Ini harus dimulai dengan mempunyai konstitusi yang benar-benar sesuai Pancasila. Untuk itu, perlu ada kaji ulang atas UUD 1945 yang sejak reformasi telah di-amandeman 4 kali dan tidak lagi sesuai Pancasila. Kalau toh UUD 1945 memerlukan perubahan karena perkembangan bangsa atau umat manusia, perubahan itu dilakukan dengan membuat addendum yang membuat aturan lama masih terbaca. Tidak dengan amandemen yang sudah terjadi.

Juga amat mendasar adalah usaha untuk makin menghilangkan kemiskinan yang selama ini menjadi sebab dari berbagai kelemahan bangsa. Terutama lebarnya kesenjangan antara golongan kaya yang sedikit jumlahnya dan golongan miskin yang banyak sekali. Tidak salah kalua bangsa Indonesia selalu mengusahakan pertumbuhan agar mencapai produksi nasional yang tinggi, karena memang sekarang produksi nasional masih rendah dan harus ditingkatkan untuk menjadikan bangsa dan masyarakat kaya sejahtera. Akan tetapi, pertumbuhan tinggi harus selalu dibarengi dengan distribusi pendapatan yang merata sehingga terjadi pengentasan kemiskinan yang menghasilkan produksi per kapita makin tinggi dan terus mengurangi kesenjangan antara golongan kaya dan miskin. Usaha kuat mewujudkan kesejahteraan umum ini harus membangun golongan menengah jumlah terbesar, mencapai lebih dari 80% masyarakat dengan penghasilan orang per orang yang tinggi.

Hal ini semua memerlukan kehidupan ekonomi berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan, menolak sistem ekonomi liberal dan neo-liberal yang hanya mementingkan golongan sedikit yang amat kaya serta amat memperlemah bangsa Indonesia, malahan memperkaya pihak asing. Terwujud sikap masyarakat yang diliputi kebersamaan dan menghargai pluralisme yang menolak radikalisme dan sikap tidak toleran. Dalam hubungan dengan bangsa lain mengusahakan peningkatan kesejahteraan dan perdamaian umat manusia tanpa mengabaikan kepentingan nasional Indonesia.

Perlu ditetapkan hukum nasional yang mengikat seluruh bangsa agar NKRI benar-benar menjadi negara hukum. Dengan itu, menjadikan kedaulatan bangsa sepenuhnya di tangan rakyat, berupa pelaksanaan demokrasi politik, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial yang secara nyata menegakkan keadilan. Dengan berlakunya hukum secara kuat dalam masyarakat diberantas korupsi yang telah begitu berat merusak kondisi sosial bangsa.

Hal ini semua memerlukan dukungan pendidikan yang bermutu, meliputi pendidikan dalam keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan yang membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang tinggi mutunya, baik moral, mental, spiritual, intelektual, terutama dalam kenyataan praksis kehidupan.

MASYARAKAT MODERN DAN PEJUANG
Dengan landasan itu, bangsa Indonesia akan secara efektif mampu melakukan pinjaman hasil kebudayaan bangsa lain, sebagaimana di masa lampau bangsa Indonesia meraih keunggulan berbagai agama seperti Hindu, Budha, Islam. Hanya ketika berhadapan dengan dunia barat yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern, bangsa Indonesia mengalami kekalahan yang berakibat penjajahan selama ratusan tahun. Oleh sebab itu, adalah terutama penting untuk sekarang meraih dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang menjadi kekuatan dunia barat. Pinjaman hasil kebudayaan bangsa lain tak akan merugikan atau mengancam pribadi Indonesia karena sudah cukup kokoh ditegakkan melalui pembangunan manusia dan masyarakat. Keberhasilan usaha itu hanya mencapai tingkat maksimal apabila dilakukan oleh manusia-manusia Indonesia yang patriot pejuang yang tak kenal menyerah dan bebas dari segala sifat manja mental. Seperti selalu diucapkan Bung Karno: for fighting nation there is no journey’s end/ untuk bangsa pejuang tidak ada akhir jalan, selalu ada hal yang perlu diwujudkan dan disempurnakan !.

Dengan begitu kebudayaan Indonesia makin kuat dan berkembang, mendukung terwujudnya peradaban Indonesia atau dapat dinamakan peradaban Pancasila dan menjadikan bangsa Indonesia makin kuat dan mampu memberikan kontribusi kepada Umat Manusia dalam perluasan perdamaian dan kesejahteraan.

Ini semua memerlukan kepemimpinan yang bermutu dan senantiasa sadar akan Pancasila sebagai Dasar Negara RI. Kepemimpinan dengan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan YME sebagai penguasa alam semesta, serta pemahaman makna Pancasila. Baik kepemimpinan pada tingkat nasional maupun daerah dan di setiap aspek kehidupan bangsa. Hakikatnya kepemimpinan-lah menjadi penentu keberhasilan Restorasi Pancasila dan terwujudnya Masyarakat Gotong Royong Modern dan Pejuang. Sebab itu, baik di pusat maupun di daerah, demikian pula di setiap aspek kegiatan masyarakat, harus terwujud dan diusahakan kepempinan yang dapat menjadi tauladan, inspirator atau pengajak dan penggerak, pendidik yang secara luas menentukan arah perjuangan dan selalu secara tegas dan arif-bijaksana sanggup mengambil setiap keputusan yang diperlukan.

Dengan dasar Pancasila bangsa Indonesia senantiasa cinta damai. Namun, dalam dunia dan umat manusia dewasa ini yang tidak bebas dari ambisi dan nafsu berkuasa tidak tertutup kemungkinan bahwa ada bangsa atau perkelompokan lain berusaha menguasai tanah air Indonesia yang terkenal kaya dengan berbagai potensi. Sebab itu, bangsa dan masyarakat Indonesia harus siap dan mampu menghadapi kemungkinan itu. Kekayaan masyarakat yang dibangun memungkinkan pembangunan ketahanan nasional dengan berbagai variasi kekuatan lunak dank eras (soft & hard power) sehingga bangsa Indonesia selalu efektif menghadapi berbagai gangguan dan ancaman.

Dengan makin banyak keberhasilan dan kemajuan yang dicapai akan makin terwujud masyarakat gotong royong Indonesia yang sesuai perkembangan zaman, yang modern. Bangsa Indonesia kembali pada sifat kepribadiaannya yang gotong royong, sekaligus memiliki daya tahan yang menjamin eksistensinya sampai akhir zaman.

PANCASILA ADALAH KITA
Inilah semboyan yang dikumandangkan dengan harapan menjadi kenyataan. Kalau Pancasila benar menjadi kenyataan di Bumi Indonesia akan terwujud kekuatan dan energi yang besar, baik untuk kehidupan kolektif bangsa maupun untuk para warganya sebagai manusia individual. Sekarang perlu kita usahakan dengan sungguh-sungguh hal itu terjadi.

Akan sangat penting dan amat membantu kalua ada kepemimpinan nasional di Indonesia yang bersikap Pancasila Adalah Kita dan secara serius mengimplementasikan itu melalui kepemimpinannya atas negara dan bangsa dalam melaksanakan pembangunan manusia dan pembangunan masyarakat. Bersama itu juga di daerah-daerah tingkat satu, daerah tingkat dua sampai di tingkat desa berkembang kepemimpinan yang serupa.

Demikian pula dalam aneka ragam organisasi yang ada seperti partai politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi dan lainnya berkembang kepemimpinan yang dijiwai Pancasila serta memimpin secara konkrit organisasinya atas dasar Pancasila.

Sebab itu harus makin dipahami setiap warga apa nilai Pancasila dan bagaimana hidup berdasarkan nilai-nilai itu. Pada mulannya perlu diajak dibawa memahami dan menyadari nilai-nilai itu dan mengimplementasikan dalam hidupnya sehari-hari , kemudian hal itu menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi sifat. Sebab itu perlu ada lembaga-lembaga yang mendalami Pancasila dan dapat menghasilkan hal-hal yang perlu dilakukan oleh warga dan masyarakat . Dengan kepemimpinan yang sadar dibentuk dan diaktifkan lembaga-lembaga itu. Ada usaha untuk mengajak para orang tua untuk mendidik anggota keluargannya menjadi pelaksana hidup Pancasila. Demikian pula semua lembaga pendidikan pemerintah dan swasta melakukan hal itu. Dalam berbagai organisasi di semua tingkat diterapkan hal-hal serupa.

Yang pertama perlu mendasar adalah pemahaman dan pelaksanaan sikap hidup terhadap sesama manusia dan terhadap alam semesta. Adalah kenyataan bahwa alam menciptakan manusia yang berbeda satu sama lain, bahkan dua anak kembar dari orang tua sama tidak sepenuhnya satu sama lain. Namun dipihak lain manusia yang berbeda itu adalah bagian dari kelompok keluarga yang membuat mereka bersatu. Sebab itu kehidupan manusia dalam alam ini berlaku atas dasar perbedaan dalam kesatuan/kebersamaan, kesatuan/kebersamaan dalam perbedaan. Harus terwujud dalam kehidupan bangsa Indonesia pengakuan secara sadar bahwa kita semua beda satu sama lain, tetapi dalam perbedaan itu kita juga sadar dan mengakui bahwa kita harus bersatu, hidup bersama. Hidup bersama dalam keluarga, keluarga dengan keluarga lain hidup bersama dalam masyarakat. Maka hidup bersama itu menghasilkan kebangsaan. Jadi kesadaran kebangsaan adalah akibat hakiki dari hidup bersama dalam alam semesta. Kemudian bangsa-bangsa bersama mewujudkan umat manusia.

Dasar dan sikap hidup ini memungkinkan setiap orang berkembang sesuai kehendaknya sehingga mencapai tingkat hidup yang excellent. Akan tetapi pada ketika yang sama setiap orang yang beda itu juga sadar dan paham bahwa untuk mencapai tingkat yang lebih baik ia harus hidup bersama warga atau orang lain. Harus disadari dan dipahami bahwa hal demikian adalah kehendak alam, kehendak Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta Alam Semesta.

Atas dasar itu semua warga harus paham bahwa dalam hidup itu mungkin terjadi beda pandangan, bahkan perselisihan. Akan tetapi hal demikian tidak boleh berkembang menjadi konflik, apalagi penggunaan kekerasan untuk maksakan kehendak. Sebab perkembangan demikian tidak menghasilkan outcome atau hasil terbaik, karena secara mendasar merusak kebersamaan. Perbedaan pandagan harus dicarikan penyelesaian melalui musyawarah-mufakat. Manusia harus menggunakan karunia Allah berupa kemampuan berpikir dan persaan untuk berkomunikasi secara damai dengan pihak lain.

Perbedaan menunjukkan bahwa setiap pribadi adalah unik dan mempunyai nilai tersendiri. Hal ini hendaknya menumbuhkan harga diri yang tinggi pada setiap individu yang mendorongnya untuk mengejar performa hidup dan prestasi bernilai tinggi, mewujudkan excellence dalam hidup. Termasuk pengabdian kepada Tuhan dengan hidup dengan moral dan etika yang tinggi mutunya. Ini akan menjadi imbangan terhadap materialism yang makin kuat akibat perkembangan teknologi yang makin tinggi. Yang amat penting adalah kesadaran untuk tidak menjadi manusia lunak atau dilunakkan karena hidup dalam alam lingkungan yang serba mudah dan murah, beda dari alam yang keras dan kejam yang harus dihadapi bangsa-bangsa lain. Kesadaran itu membuat manusia Indonesia seperti anak orang kaya yang gigih perjuangan hidupnya, bukan anak orang kaya yang lembek karena mendasarkan hidupnya pada kekayaan orang tua. Kesadaran itu membuat manusia Indonesia manusia pejuang yang senantiasa mengejar harga diri yang tinggi dengan performa serba excellent.

Inilah dasar dari sikap bahwa kita hidup dalam kondisi kemanusiaan yang beradab. Kesadaran itu hendaknya menghasilkan terbentuknya sikap yang mengurangi sekali nafsu yang bersifat korupsi. Mengingat betapa korupsi merusak masyarakat Indonesia begitu dahsyat, maka jelas sekali betapa penting dan strategis faktor harga diri ini bagi perkembangan masyrakat Indonesia.

Hal itu tidak akan berkembang secara berkelebihan menjadi individualisme kalua di pihak lain sikap kesatuan dan kebersamaan di masyarakat juga kuat. Dengan adanya kesatuan/kebersamaan yang kuat dapat ditumbuhkan budaya malu yang mendorong setiap pribadi untuk hidup dengan disiplin tinggi dan selalu mengusahakan yang terbaik karena hal-hal tersebut meningkatkan nilai pribadi dalam kelompoknya, masyarakatnya. Sebaliknya ada rasa malu kuat kalua berbuat kurang baik dan kurang beradab sehingga merugikan masyarakat.

Perkembangan harga diri yang beradab juga akan mengurangi sifat kurang kendali yang menjurus begitu sering ke penggunaan kekerasan. Pribadi dan kelompok dengan harga diri tinggi akan malu berbuat kekerasan yang menunjukkan kurang mampu mengendalikan emosi dan bahkan kebodohan karena orang yang mampu berpikir benar tentu sadar bahwa penggunaan kekerasan lebih banyak menimbulkan kerugian, juga bagi pihak yang mulai menggunakan kekerasan.

Perbedaan dapat mengakibatkan kemampuan berbeda, termasuk kemampuan menghasilkan kesejahteraan lahir. Jadi dalam masyarakat terjadi orang lebih kaya dari orang lain. Akan tetapi perbedaan kekayaan yang berlebihan itu tidak benar kalua menyebabkan kesenjangan lebar antara golongan satu dengan yang lain. Perlu ada sifat saling membantu tanpa mengorbankan usaha untuk mampu mandiri. Negara sebagai organisasi yang mengurus bangsa dan masyarakat harus senantiasa menjaga agar tidak terjadi kesenjangan lebar antara golongan kaya dan miskin. Jadi dalam negara selalu ada usaha negara untuk menjamin dan tidak membiarkan orang makin kaya ketika orang lain makin miskin. Dorongan mencapai kemajuan untuk tiap-tiap orang dilakukan bersamaan dengan menjaga distribusi penghasilan yang merata. Jadi bukan THE WINNER TAKES ALL, TAPI WIN-WIN SOLUTION. Inilah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan/perwakilan yang sekaligus menghasilkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kondisi Indonesia yangs edang “krisis kepemimpinan” mungkin usaha Restorasi Pancasila belum dapat merupakan satu gelombang masyarakat yang luas-deras. Akan tetapi pasti ada bagian-bagian masyarakat yang matang untuk melakukan itu. Dengan landasan bahwa pesat atau lambat akan terjadi kemajuan maka lambat laun perjuangan yang mula-mula berupa usaha bagian-bagian masyarakat itu akan berubah menjadi gelombang yang makin luas-deras. Kalau bagian-bagian melakukan usaha secara sungguh-sungguh dan konsisten, maka satu ketika akan tumbuh gelombang masyarakat bangsa yang menghasilkan kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah sesuai harapan. Sebab itu, Restorasi Pancasila harus bersifat perjuangan dilakukan oleh manusia dan masyarakat pejuang yang melebihi serunya perjuangan merebut kemerdekaan.

Inilah usaha dasar yang perlu diperjuangkan melalui PANCASILA ADALAH KITA ! Dengan terwujudnya perilaku warga dan masyarakat yang makin nyata dan kuat semoga tujuan kita akan tercapai.

Jakarta, 1 Juni 2015

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Restorasi Pancasila untuk Membangun Masyarakat Gotong Royong Modern dan Pejuang