kemem

Desk Wasbang,- Kedeputian VI/Kesbang Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) dan Kedeputian Pengembangan Pemuda Kemenpora,  menyelenggarakan acara Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Kesadaran Pemantapan Bela Negara dalam bentuk “Simposium Nasional Pemuda Indonesia”, Selasa (30/8) di Hotel Arya Duta, Jakarta.

Simposium yang mengangkat tema “Peran Strategis Pemuda Dalam Penguatan Pancasila dan Bela Negara” dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Menko Polhukam yang di damping oleh Ketum KNPI, Muhammad Rifai Darus; Deputi VI/ Kesbang  Arief P Moekiyat; Plt. Deputi II Bidang Pengembangan Pemuda Jonni Mardizal; dan Waketum KNPI, Berto Ishak Doko,  dan dihadiri oleh segenap pengurus DPP KNPI, perwakilan anggota DPD KNPI dari berbagai daerah, anggota Desk Wasbang Kemenko Polhukam, serta para pejabat dari kementerian/lembaga dibawah koordinasi Kemenko Polhukam dengan peserta sebanyak 400 orang.

Dalam sambutannya Menko Polhukam mengatakan bahwa Simposium Nasional Pemuda Indonesia merupakan suatu langkah tepat untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Menko Polhukam mengapresiasi dan berharap dengan diselenggarakannya simposium ini, maka akan ada perubahan pada kepemudaan Indonesis untuk menuju kemajuan bangsa. “Harus ada perubahan dan harus ada satu suasana baru yang merupakan kemajuan,” jelas Menko Polhukam.

Lebih lanjut Menko Polhukam mengatakan, hari ini saya berbahagia masuk kedalam satu Forum Simposium Nasional dimana taglinenya sangat pendek, tetapi sangat tepat sasaran. Tema yang diangkat memiliki dua kata kunci yang memiliki korelasi dan tidak dapat dipisahkan. Dua kata kunci tersebut adalah peran strategis pemuda dan penguatan Pancasila dan Bela Negara.

Dijelaskannya pula bahwa peran pemuda dalam perubahan bangsa sudah ada sejak lama dan menjadi bagian sejarah bangsa.

“Pemuda tidak pernah tidak hadir tatkala bangsa ini mengalami perubahan. Dari terjajah menjadi tidak terjajah. Dari Budi Utomo, 1908, Sumpah Pemuda, 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan, 1945. Itu kan peran pemuda kita,” tegas Menko Polhukam.

Tidak mengherankan jika pemuda menjadi suatu objek menarik bagi politisi yang menginginkan perubahan, karenanya perubahan harus dibarengi dengan perencanaan yang baik. Sebab bila tidak, maka Indonesia tidak akan mengalami kemajuan.

Ditegaskannya pula bahwa pemuda memiliki peran yang sangat signifikan dalam merubah Indonesia menjadi bangsa yang maju. Pemuda adalah agen-agen pelopor perubahan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa peran strategis pemuda dalam perubahan negeri ini sangt signifikan. Dapat dikatakan bahwa pemuda adalah the agent of change, agen-agen perubahan yang mempelopori perubahan,” ujarnya.

Dikatakannya bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi satu perubahan yang sangat fenomental, yaitu revolusi teknologi. Perubahan teknologi ini pun memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap perubahan suatu negara. Dampak positif perubahan teknologi ini adalah komunikasi menjadi lebih cepat, siapa pun dan dimanapun dapat terhubung melalui teknologi.

Dampak negatif yang muncul dari perubahan teknologi adalah berubahnya pola ancaman dimana yang dulunya hanya berupa ancaman militer yang bersifat fisik. Namun kini ancaman baru yang muncul akibat perubahan teknologi menjadi lebih multidimensional, dimana ancaman dapat masuk ke setiap ruang kehidupan publik.

“Kita tidak dapat menampikkan bahwa revolusi teknologi bisa merubah nasib suatu bangsa. Serangan itu berupa serangan psikologis lewat hoax, serangan-serangan yang mengubah opini publik lewat hoax, serangan untuk menjelek-jelekkan orang lain lewat hoax,” jelas Menko Polhukam.

Oleh karena itu, Menko Polhukam mengatakan sudah saatnya kita melawan opini-opini yang menyesatkan tersebut. Salah satunya adalah melawan dengan pemahaman bela negara yang benar.

“Kalau kita bisa, maka ada dua hal yang diselesaikan. Paling sedikit rakyat kita menjadi bagian dari ancaman, berarti makin kecil ancamannya. Yang kedua, negara kita lebih stabil,” jelas Menko Polhukam.

Dalam kegiatan Simposium Nasional Pemuda Indonesia menghadirkan beberapa narasumber untuk Sesi I yaitu : Prof. Anas Saidi (Deputi UKP-PIP); Ahmad Dolli Kurnia (Ketua Majelis Pemuda Indonesia); Ahmad Dolli Kurnia (Ketua Majelis Pemuda Indonesia); serta moderator  Dickson Siringo Ringo dari KNPI.  Sesi II yaitu: Komjen Pol. Drs. Lutfi Lubihanto (Kabaintelkam Polri); Firman Jaya Daeli (Pengamat Hukum); Dahnil Anzar Simanjuntak (Ketum Pemuda Muhammadiyah) serta Moderator Pangeran A. Nurdin Moderator dari KNPI

Kegiatan Simposium Nasional Pemuda Indonesia ditutup dengan Penandatananganan Ikrar Pemuda Indonesia diantaranya oleh Ketua Umum KNPI, Pengurus Besar HMI, Pengurus Besar PMII, Presidium Pusat GMNI, Pengurus Pusat GMKI Pengurus Pusat PMKRI serta Saksi Deputi VI Kesbang dan Plt Deputi II Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora yang langsung dibacakan oleh Waketum KNPI, Berto Ishak Doko dan diikuti oleh seluruh pengurus DPP KNPI, perwakilan anggota DPD KNPI dari berbagai daerah sebanyak 250 orang.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *