DSC_8794

Jakarta, 16/6/2015, deskwasbang.polkam.go.id, Indonesia telah memiliki Pancasila sebagai  dasar negara, ideologi nasional, dan falsafah atau pandangan hidup bangsa, yang terbukti tangguh dan memiliki kesaktian dalam melewati  berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak zaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin (Orde Lama), Orde Baru, hingga di Era Reformasi saat ini. Tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila sesuai Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967 tentang Hari Kesaktian Pancasila, karena berkat kewaspadaan dan daya juang seluruh rakyat Indonesia atas pengkhianatan G30S/PKI yang akan menghancurkan Pancasila dapat ditumpas dan digagalkan. Di setiap zaman, Pancasila mampu melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia, yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah. Namun demikian, sejak reformasi tahun 1998 yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah-olah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan.

Demikian, sambutan yang disampaikan Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam, Arief P. Moekiyat, pada acara Forum Dialog Antar Generasi yang diselenggarakan atas kerjasama Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan Kemenko Polhukam dengan Mabes TNI khususnya Pusjarah TNI serta K/L anggota Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan dan para Penggiat “Pancasila Adalah Kita”, di Ruang Dwiwarna, Kantor Lemhannas RI, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada hari Selasa, 16 Juni 2015.

Lebih lanjut, Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa menyampaikan bahwa tantangan akan selalu ada, dan hanya mungkin dihadapi dengan kerja keras segenap warga bangsa secara terintegrasi. Oleh karenanya, perlu secara terus menerus membangun dan/atau merevitalisasi Pancasila kembali melalui  Pemantapan Wawasan Kebangsaan yang berintikan Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau disebut dengan Empat  Konsensus Dasar Bangsa merupakan Unfinish Agenda.

“Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pondasi bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila selalu menyertai perjalanannya, serta Pancasila adalah kita, milik kita semua warga bangsa Indonesia”, ujarnya didepan peserta Forum.

Forum  Dialog Antar Generasi dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Lemhannas RI, serta dilanjutkan dengan sambutan dari Deputi Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam, dan Asisten Teritorial Panglima TNI mewakili Panglima TNI. Kegiatan Forum Dialog Antar Generasi dibagi menjadi dua sesi. Sesi Pertama hadir sebagai pembicara yaitu KH. Masdar Farid Mas’Udi (Ketua PBNU), Prof. Dr. Franz Magniz Suseno, SJ, dan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo dengan Moderator yaitu Mayjen TNI (Purn) Santo Budiono. Sedangkan Sesi kedua hadir sebagai pembicara yaitu Robby Tulus dengan Moderator Bagus Rahman, M.Ec terkait implementasi nilai-nilai Pancasila dalam bidang koperasi.

Dalam keynote speechnya, Gubernur Lemhannas RI, Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, D.E.A, menyatakan, Pancasila sarat dengan nilai luhur bangsa yang berintikan semangat gotong royong, namun harus diakui implementasi nilai-nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis Pancasila dalam kehidupan masyarakat masih belum berjalan sesuai harapan. Hal ini dapat dilihat dari perilaku sebagian besar masyarakat di berbagai strata dan tingkatan, tampak tidak selaras dan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

“Langkah pemantapan wawasan kebangsaan yang harus dilakukan tidak cukup melalui forum diskusi ataupun forum dialog saja, melainkan harus melalui langkah nyata dan teladan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, utamanya oleh anak-anak bangsa yang saat ini dipercaya sebagai pemimpin di berbagai tataran”, tuturnya didepan para peserta forum.

Forum Dialog dihadiri kurang lebih 180  peserta yang terdiri dari perwakilan K/L, TNI, Polri, perwakilan Mahasiswa (UI, UNJ, Unhan, Univ. Sampurna), Menwa, alumni Lemhannas, KNPI, PP Muhammadiyah, GP Ansor, KOTI, IOSKI, media massa, dan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *