stop-terorisme

oleh
Suhardi Alius (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)

Dikutip dari Harian Rakyat Merdeka, 3 Oktober 2016

Terorisme semakin menunjukkan dampak destruktif, seiring arus percepatan teknologi informasi. Tujuan, target, motif, metode, serta aksi-aksi terorisme sudah menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan. Arus globalisasi, diiringi ketimpangan kapital (modal) memunculkan gerakan terorisme kontemporer.

Radikalisme-terorisme timbul karena berbagai penyebab, seperti ekonomi, politik, psikologis maupun ideologis. Meskipun kemudian, menemukan tempatnya, berlindung di balik dalil-dalil agama. Dalam analisis radionaol ditemukan korelasi antara ketimpangan global, solidaritas saudara seiman dan kondisi pelaku teror yang menggerakkan aksi, langsung terhadap sasaran maupun terhadap simbol-simbol yang dianggap mewakili sasaran.

Terorisme kontemporer telah memanipulasi realitas geopolitik global, seperti berbagai ketidakstabilan di negara-negara Timur Tengah atau negara muslim lainnya sebagai akibat intervensi dan camppur tangan negara-negara besar. Dalil-dalil agama bertebaran dan sejarah kejayaan Islam di Eropa menjadi propaganda yang efektif untuk menarik simpatik dan merekrut anggota dengan bentuk solidaritas umat seiman.

Kondisi tersebut jelas menimbulkan gejolak di tanah air Indonesia sebagai negara mayoritas muslim. Beberapa kali aksi teror dengan peledakan bom dan senjata menyebabkan para korban kehilangan nyawa, cacat fisik, trauma, kerugian material hingga duka mendalam keluarga korban. Pelabelan agama dalam melancarkan aksi teror telah mencoreng umat Islam di Indonesia. Pemuka agama, ormas Islam, pesantren-pesantren angkat bicara bahwa gerakan terorisme bukanlah jihad yang diserukan Islam. Bahkan ideologi negara pun dirongrong gerakan terorisme yang ingin membentuk “Khilafah Dunia”.

Bahaya Terorisme

Radikalisme maupun terorisme jelas sangat bertentangan dengan ideologi negara dan nilai-nilai kemanusiaan. NKRI dengan landasan ideologi Pancasila adalah komitmen bersama para pendahulu kita. Inilah wujud ideal yang menyatukan beragam identitas suku, budaya, dan agama dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Ke-bhinneka-an bukanlah penghalang rakyat untuk beribadah sesuai agamanya dan bergotong royong meski berbeda suku dan agama. Justru beragam identitas merupakan kekuatan bangsa dan negara kita.

Gerakan terorisme melalui propaganda dan aksinya telah mengancam negara-negara di dunia. Indonesia pun tidak lepas dari ancaman ini. Jika tidak mampu menangkal dan mencegah gerakan terorisme di dalam negeri, maka negara kita akan terjun bebas menuju negara-negara gagal yang terus dilanda konflik seperti Afganistan, Irak, Yaman, Palestina, Suriah, Sudan, Libanon.

Tidak sedikit generasi muda terjerumus gerakan radikalisme dan terorisme. Hasil riset Kementerian Luar Negeri (Kemlu), IN SEP dan Densus 88 terhadap 110 pelaku terorisme tahun 20112, berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 63,6% pelakunya berpendidikan SMA. Riset ini menyebutkan, rentang usia terbanyak pelaku teroris antara antara usia 21 hingga 30 tahun, sebesar 47,3%. Ini berarti usia pelaku teror terbanyak kisaran di bawah 30 tahun.

Data ini belum termasuk aksi di jalan Thamrin Jakarta (Januari 2016) serta teror Gereja di Medan (Agustus 2016), yang juga melibatkan pelaku usia muda. Mencermati perkembangan ini, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi teritorial wilayah dan menjamin ketentraman rakyat. Pemerintah melalui BNPT merupakan representasi negara dalam menanggulangi terorisme. sinergi antar instansi pemerintah akan mempersempit ruang gerak terorisme.

Kontra Terorisme

Salah satu upaya BNPT untuk menanggulangi terorisme adalah meningkatkan kegiatan-kegiatan deradikalisasi. Ini bukanlah kompromi terhadap gerakan terorisme tetapi bertujuan meninimalisir niat dan kapabilitas pelaku atau kelompok terorisme untuk melaksanakan aksinya. BNPT aktif menetralisir ideologi dan pemikiran radikal agar menjadi moderat. Bukan hal mudah mengubah mindset mereka. Disamping itu, juga pendekatan lainnya seperti kontra ideologi, kontra radikalisasi dan kontra narasi, hingga tindakan keras untuk penindakan.

Pendekatan kontra ideologi dan kontra radikalisasi ditujukan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh kepada kelompok-kelompok radikal yang cenderung berkembang dan merongrong negara. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya tangkal dan kewaspadaan masyarakat terhadap terorisme. Begitupula dengan pendekatan kontra narasi. Ini upaya menangkal berbagai propaganda dan provokasi mulai dari media cetak, media online, hingga jejaring media sosial (BBM, WA, FB, Twitter, dan semacamnya).

BNPT memerlukan sinergi dengan semua potensi sumberdaya negara. Permasalahan terorisme amatlah kompleks, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Berbagai upaya BNPT tidak efektif bila tidak dibarengi oleh gerakan bersama segenap komponen bangsa dan elemen masyarakat. Dukungan dan komitmen bersama adalah terpenting dalam keberhasilan dan efektivitas penanggulangan terorisme agar tidak tumbuh di wilayah Republik Indonesia.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *