IMG_5913

Jakarta,polkam,go.id, 9/9/2015. Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam, Ir. Arief P. Moekiyat, M.T., Selasa (8/9), membuka Forum Pemantapan Pemberdayaan Masyarakat tentang “Formulasi Pedoman Pengenalan Dasar Pendidikan Pelatihan Revolusi Mental Bagi Remaja Pra dan Pasca Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)”, di Aula Latief Hadiningrat, Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam sambutannya, Deputi VI Bidang Kesbang mengatakan,  suatu bangsa yang besar dapat dinilai dari kuatnya karakter bangsa dan karakter tersebut tidak dapat dibangun secara instan, sehingga memerlukan pendidikan nilai dan norma kehidupan bernegara dengan berbagai pengalaman berdasarkan sejarah perjuangan bangsanya. “Generasi bangsa lahir terus, sehingga penanaman nilai dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Arief P. Moekiyat mengatakan,  globalisasi dan modernisasi telah mempengaruhi disorientasi karakter bangsa Indonesia, sehingga perlu adanya realignment dan pelurusan kembali nilai-nilai kehidupan Bangsa Indonesia melalui revolusi mental dalam kerangka Pembangunan Karakter Bangsa (Nation Character Building). “Kita perlu melaksanakan pemantapan wawasan kebangsaan yang berintikan Empat Konsensus Dasar Bangsa, terutama internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai jatidiri dan karakter bangsa, melalui keteladanan para pemimpin formal dan non formal, serta para Guru dan Dosen kepada anak didiknya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr H Djaali dalam sambutannya pada peserta forum mengatakan, reformasi mental adalah preses internalisasi nilai untuk menghasilkan peningkatan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Kontek nilai-nilai yang mau ditanamkan di Indonesia sudah jelas, yaitu nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran berbangsa dan bernegara, termasuk yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, bagaimana metodologi implementasi reformasi mental itu kita laksanakan ? karena salah satu kekeliruan kita selama ini adalah bila kita bicara pendidikan  budi pekerti, pendidikan karakter, dan pendidikan ahlak, maka  yang kita lakukan masih pelajaran budi pekerti. Masih mengajarkan semua itu melalui ceramah. ”Ini yang tidak efektif,” jelasnya. Kalau kita bicara reformasi mental, implementasi reformasi mental untuk menanamkan nilai-nilai  berbangsa dan bernegara, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus banyak memberi contoh. Para guru, para tokoh, dan  para pelaku reformasi mental harus terlebih dahulu  memperlihatkan dan mencontohkan prilaku-prilaku yang merupakan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila. “Itu yang pertama harus kita lakukan,” tegasnya.

Forum yang terselenggara atas kerjasama Kedeputian VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dihadiri oleh sekitar 120 peserta dari kementerian/lembaga, TNI/Polri, perwakilan SKPD DKI,  perwakilan Universitas di Jakarta, perwakilan SMA di Jakarta, dan para Mahasiswa UNJ. Forum  menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu : Prof. Muchlis Erludin (Wakil Rektor I UNJ), Dr. Silverius Y. Soeharso, SE. MM. Psi. (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila), dan Suharlan, SH., MH. (Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud). Sedangkan jalannya forum dipandu oleh moderator : Rahmatullah, S.Pd, M.Si, (Dewan Pendidikan Jakarta dan Mahasiswa Doktoral UNJ).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *