hsn7

Desk Wasbang – Bandung, – Deputi VI/Kesbang Arief P Moekiyat memberikan Keynote Speech dalam acara Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerjasama Kemenko Polhukam dengan Pengurus Pusat  Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI), Kemenpora, serta PW NU Jabar dan Universitas Islam Nusantara Bandung.

Forum yang mengangkat tema “Peran Santri dalam Bela Negara” (Siapa Kita? Indonesia, Apa Ideologi Kita? Pancasila, Apa Kewajiban Kita? Bela Negara”).  Kegiatan ini dalam rangka mengisi rangkaian Peringatan Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober dan sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, yang dilaksanakan di AULA Universitas Islam Nusantara Bandung, (Jum’at 27/10/17).

Untuk mengenang, meneladani, dan melanjutkan peran Ulama dan Santri dalam membela dan mempertahankan NKRI, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa, Pemerintah telah menetapkan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober berdasarkan Keppres Nomor 22 Tahun 2015.  Penetapan pada tanggal 22 Oktober merujuk pada ditetapkannya seruan  Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 oleh para Santri dan Ulama Pondok Pesantren yang mewajibkan setiap Muslim untuk membela Tanah Air dan mempertahankan kemerdekaan NKRI dari serangan penjajah, jelas Deputi VI/Kesbang Arief P Moekiyat.

Deputi VI/Kesbang mengatakan bahwa 89 tahun yang lalu para Pemuda kita mendeklarasikan gagasan berjuang untuk mewujudkan ide cemerlangnya tentang satu bangsa, satu tanah air dan menjunjung tinggi bahasa persatuan-Indonesia, yang dikemudian hari diwujudkan menjadi Negara Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain itu, Deputi VI/Kesbang menyampaikan “Kita mengakui bahwa akhir-akhir ini dalam dinamika berbangsa dan bernegara, terdapat kecenderungan semakin menurun dan mundurnya tingkat derajat persatuan dan kesatuan anak bangsa, karena kurang diperhatikannya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia”, ujar Deputi VI/Kesbang.

Tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, sifatnya sudah multidimensi, ancaman tidak lagi bersifat konvensional atau fisik semata, akan tetapi sudah berkembang baik fisik maupun non fisik. Ancaman berkembang menjadi bersifat multidimensi karena karakter ancaman dapat bersumber dari ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Berbagai ancaman tersebut harus disikapi dengan bijak dan tepat oleh seluruh komponen bangsa. Untuk menghadapinya diperlukan upaya Bela Negara dengan semangat Nasionalisme dan Patriotisme yang kuat  berdasarkan pada Pancasila.

Dijelaskan pula, momentum peringatan Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda merupakan upaya untuk menegaskan kebersatuan kita ditengah keberagaman bangsa Indonesia, untuk bersama-sama mengambil bagian dalam upaya Bela Negara dalam menghadapi tantangan dan ancaman bangsa, antara lain intoleransi, radikalisme, narkoba, korupsi, kesenjangan sosial ekonomi, kemiskinan, kebodohan, provokasi, agitasi, dan propaganda (Sosmed).

Sebelum menutup sambutan Deputi VI/Kesbang Arief P Moekiyat menyampaikan pesan dan harapan kepada seluruh peserta forum, khususnya mahasiswa dan santri  yang diantaranya,

  1. Berpegang teguh kepada 4 (empat) Konsensus Dasar Bangsa yang berintikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  2. Mampu menjadi pelopor semangat persatuan, toleransi, dan kerukunan di tengah masyarakat;
  3. Para Santri tidak hanya fokus belajar soal agama di Pondok Pesantren, namun juga pengetahuan lain, khususnya bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam menghadapi tantangan globalisasi;
  4. Para Santri dapat berinteraksi dan menggunakan sarana internet/media sosial untuk menyampaikan dakwah dan pesan-pesan Islam Rahmaatan Lil’ Alamin.
  5. Para Santri agar selalu mencintai tanah air dan mempunyai rasa memiliki negeri ini,  untuk membela negara dalam berbagai aspek kehidupan;

Forum tersebut dibuka secara resmi dengan pemukulan bedug oleh Rektor UNINUS Dr. H Suhendra Yusuf. MA, yang didampingi oleh Deputi VI/Kesbang Arief P Moekiyat dan dihadiri peserta sebanyak 500 orang yang teridiri dari para santri pondok pesantren se Jawa Barat, Civitas Akademika, pejabat sipil, TNI dan Polri.

Dalam kegiatan Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Wawasan Kebangsaan menghadirkan beberapa narasumber diantaranya, Kolonel Sus Drs. Dendi Tuwidanterse, S.H., M.Si,. Badiklat Kemhan,. Ir. Suwadi D. Pranoto, Wasekjen PBNU., Dr, Jaswadi S.Ag., Msi Bidang Pemberdayaan Organisasi Kemahasiswaan Kemenpora serta Moderator Abdul Waidi, MA,. Acara tersebut ditutup dengan Pembacaan Ikra Santri Indonesia yang diikuti oleh seluruh peserta Forum dan sekaligus Penandatananganan Ikrar Santri Indonesia  diantaranya oleh Perwakilan Wilayah Indonesia Bagian Timur, Tengah, Barat, Ketua HSN 2017, Ketua PP RMI NU dan Ketua PWNU Jabar serta Saksi Deputi VI Kesbang dan Plt Deputi II Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *