DSCN9403

Jakarta, polkam,go.id, 11/9/2015. Semenjak kita memasuki era reformasi tahun 1998, dapat dirasakan adanya kecenderungan menurunnya pemahaman nilai-nilai wawasan kebangsaan, sehingga berdampak pada munculnya konflik-konflik sosial di tengah masyarakat, diantaranya gesekan antar kelompok masyarakat yang bernuansa agama yang dipicu oleh faktor politik, ekonomi, dan sosial budaya. Menyadari akan adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan upaya-upaya Pemantapan Harmonisasi Sosial untuk mengembalikan kembali nilai-nilai jatidiri/karakter bangsa Indonesia dengan meningkatkan kembali toleransi dan semangat gotong royong, dalam keragaman dan perbedaan sesuai Semboyan Negara Bhinneka Tunggal Ika. Dalam membangun toleransi di tengah masyarakat, maka salah satu konsep yang dapat diaplikasikan adalah setidaknya setiap warga negara perlu mempunyai rasa empati, yakni kepedulian dan perhatian kepada sesama anak bangsa. Adanya rasa empati itu, akan menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai, dimana satu sama lain sudah saling mengenal.

Demikian diungkapkan Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam, Ir. Arief P. Moekiyat, M.T., dalam sambutannya saat membuka Forum Pemantapan Harmonisasi Sosial dengan tema “Konsep dan Aplikasi Toleransi Kebhinnekaan dalam Rangka Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, di Hotel Milenium Jakarta. Kamis, 10 Septermer 2015. Forum  menghadirkan empat  orang narasumber, yaitu : Prof. Dr. Bachasin, MA (Dirjen Binmas Islam, Kemenang), Prof. Dr. Syafifiq A. Mughni (Ketua Bidang Hubungan Antar Agama dan Peradaban, PP Muhammadiyah),  Pastor YR Edy Purwanto, Pr. (Sekertaris Eksekutif Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Pdt. Suhardi Sanjaya (Wakil Ketua Widyasabha Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Sedangkan jalannya forum dipandu oleh Laksda TNI (Purn) Christina M. Rantatena, M. Ph yang juga bertindak sebagai moderator. Forum juga dihadiri  sekitar 80 orang peserta dari kementerian/lembaga, TNI/Polri, Ormas Keagamaan, Dewan Pers, LSM dan perwakilan dari Universitas.

Prof. Dr. Bachasin, MA dalam paparannya yang berjudul “Peran Agama dalam Memperkokoh Kebhinneka-Tunggal-Ika-an Bangsa Indonesia” antara lain mengatakan, agama merupakan berkah jika membuat manusia peduli kepada persoalan umat manusia, solider kepada yang menderita, terhalang dan tertindas. Untuk itu, jaga  agar agama jadi berkah, bukan menjadi laknat.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Syafifiq A. Mughni dalam paparannya yang berjudul “Konsep dan Aplikasi Lokal dalam Rangka Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa” antara lain mengatakan,  dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits ditekankan agar kita bersikap ramah, tidak saling curiga, tidak saling mengancam dan memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk memeluk agama lain. Jadi sikap yang menunjukkan semangat kedamaian, kerukunan dan saling pengertian adalah merupakan sikap yang ideal, yang harus kita tuju bersama-sama, namun demikian sering terjadi kesenjangan antara yang ideal dan yang nyata.

Menanggapi hal tersebut, Pastor YR Edy Purwanto, Pr. dalam paparannya yang berjudul “Merevitalisasi Kearifan Lokal dalam Memperkokoh Kebhinneka-Tunggal-Ika-an Bangsa Indonesia” antara lain mengatakan, untuk merevitalisasi kearifan kokal dalam memperkokoh Kebhinneka-Tunggal-Ika-an bangsa Indonesia, maka  moto/slogan Bhinneka Tunggal Ika harus senantiasa dipahami, diinternalisasi, dan dihayati sebagai landasan bangunan kesadaran akan keragaman Indonesia. Selain itu, harus diaktualisasikan sebagai semangat dan interpretasi ke-Indonesia-an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, Pdt. Suhardi Sanjaya dalam paparannya yang berjudul “Konsep dan Aplikasi Aktualisasi Budaya dalam Memperkokoh Kebhinneka-Tunggal-Ika-an Bangsa Indonesia” antara lain mengatakan, kecintaan terhadap agama yang dianut adalah hal yang baik, sehingga kita dapat semakin meningkatkan kualitas iman kita. Begitu pula dengan kecintaan terhadap etnis atau ras yang mengalir di darah kita, dapat menjadi motivasi untuk berkontribusi dalam melestarikan budaya lokal. Namun demikian, kecintaan tersebut perlu diarahkan agar tidak berubah bentuk menjadi fanatisme sempit yang membuahkan kebencian terhadap orang dengan entitas yang berbeda.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *