POLHUKAM - Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan

Imlek dan Kesatuan Bangsa

ini-tradisi-di-perayaan-tahun-baru-cina-8e6

 Perayaan Imlek baru saja dilewati di Tanah Air. Sejarah mencatat sebelum Era Reformasi, Perayaan Imlek tidak diberi tempat. Namun sejak memasuki Reformasi, diberi ruang seluas-luasnya dan kebebasan. Kita pantas memberi penghargaan yang tinggi kepada Alm Abdulrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI keempat (Th 1999-2001) yang mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 dan menerbitkan Keppres No 6 Tahun 2000. Gus Dur yang menetapkan Imlek sebagai hari libur Fakultatif dan kemudian pada Th 2003 oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden RI Kelima (Tahun 2001-2004), dinyatakan sebagai hari Libur Nasional. Kita patut bersyukur bahwa para pemimpin tersebut berusaha merekatkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Mereka tidak hanya sekedar menyampaikan ucapan dan slogan, tetapi juga dengan tindakan nyata. Tentu saja kita mengharapkan tidak hanya sampai disini peran orang-orang Tionghoa keturunan Indonesia dapat sekedar merayakan Imlek. Mereka juga telah mendapat ruang kebebasan politik yang sama dengan WNI yang lain, sehingga dituntut harus dapat memberi kontribusi dan partisipasinya dalam membangun bangsa Indonesia dalam kesejahteraan bersama. Semoga perayaan Imlek tahun ini akan semakin menggerakan hati para warga Indonesia Keturunan untuk semakin BERSATU, serta sungguh-sungguh terlibat dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa, termasuk kesenjangan sosial ekonomi, karena  mereka bukan orang lain, melainkan WARGA KETURUNAN ADALAH BAGIAN DARI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA (APM).

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Imlek dan Kesatuan Bangsa